Kamis, 07 Juli 2011

PUTRI istri sah PUTRA (Secara Agama)

4 Juni 2011
Hari itu merupakan hari yang sangat berarti untukku. Tak hanya aku yang berbahagia. Ibu dan bapakku pun ikut berbahagia.
Ada sebuah kebahagiaan yang tak pernah terbeli oleh apa pun. Sebuah kebahagiaan lahir dan batin yang mengantarkan aku daptkan Ridho Allah, InsyaAllah.
4 Juni 2011, seorang pria yang selama ini setia menungguku dalam suka dan duka, menyayangiku, mencintaiku, dan peduli terhadapku datang melamarku.
Sekitar sebulan yang lalu tepat tanggal 22 April kami mempersiapkan segala sesuatunya untuk sebuah acara adat yang dinamakan lamaran. Padahal, sepengetahuanku islam hanya mengenal khitbatunnikah, khitbah untuk persiapkan nikah. Namun….. tidak seperti yang aku harapkan.
2 syawal lebaran 2010, keluarga putra bersilaturrahmi ke rumah. Kepada keluargaku, khususnya waliku yang tak lain adalah bapakku sendiri, orang tua laki-laki Putra mnegutarakan maksud dan tujuan bersilaturrahmi bahwa putra bungsunya ingin menikah dengan denganku. Bagi keluarga kami itu adalah khitbah atau dalam masyarakat dikenal dengan tunangan.
Pada pertemuan itu disampaikan bahwa sebenarnya ibuku menghendaki lamar nikah, jadi seserahan yang biasa disebut peningset itu diserahkan ketika H-1 akad nikah. Namun, dari keluarga Putra menghendaki harus ada acara tunangan.  Demi kelancaran bersama, baiklah…… kami ikuti saja aturan mainnya jika itu memang untuk kebaikan bersama.
Setelah persiapan di bulan April selesai, barulah di hari keempat pada bulan Juni 2011, keluarga putra beserta beberapa saudara  sowan ke rumah untuk melamarku dengan membawa segala peningset dan kue-kue yang udah biasanya ada dalam acara lamaran, seperti tetel, pisang raja yang kulitnya benar-benar mulus, buah, dan kue-kue. Katanya sih semua itu ada maknanya.. tapi entahlah.. aku tak tahu itu.. :p

Kami ikuti saja acara itu hingga selesai, namun apa yang kami harapkan tidak tercapai. Kami berharap dalam acara itu mendapat sebuah keputusan yang nantinya akan PUTRA bawa pulang kembali ke tanah ibukota. Putra tak ingin hal lain kecuali tanggal pernikahan kami.
Kemudian,Putra pun mulai geram melihat ibu mertuaku berusaha mengulur-ulur waktu itu dengan alasan dari segi adat budaya dan duniawi. Astagfirullahal’adziim..
Sekitar 30 menit lepas acara itu, dengan mengenakan kemeja batik khas Madura berlengan panjang, wajah lelah ia nampakkan turun dari atas motor dan menuju rumahku bersalaman dengan bapak ibuku dan keluargaku yang pada malam itu masih ada di rumahku. Malam itu sekitar pukul21.15.

Siang hari sebelum malam itu kakak dan aku sempat bersilaturrahmi ke rumah Pak Ustadz dari Yayasan yang ada di kotaku yang kebetulan sahabat dari keluargaku, Sebut saja ustadz R. Beliau memberikan ceramah singkat pada kami tentang hukum bergaul beda muhrim dan sungguh kami sangat tertampar akan hal itu. Khusunya aku sebagai wanita muslimah, sangat malu dengan jilbab yang aku kenakan. Kami pun bercerita kendala kami tidak cepat menikah. Beliau mengerti, tapi agama tak bisa mengerti. Dosa tidak memandang alasan yang sifatnya duniawi. Haram ya Haram, Halal ya Halal. Beliau mengatakan menikah itu mudah, manusia saja yang mempersulitnya. Ketika ada dua memepelai, wali , saksi dan mahar, maka sahah sebuah mitsaqon ghalidzon.  Kami sungguh malu pada ustadz R.Di sepanjang perjalanan pulang kami membicarakan hal itu, Putra seolah bersikeras, aku pun juga ingin karena mengingat dosa-dosa yang telah kami buat dan yang akan kami buat. Kami hanya manusia biasa yang memilki nafsu. Bagaimana kami bisa menahan nafsu selama berbulan-bulan dengan tidak adanya sertifikasi halal???? Puasa dan sholat?? Sudah juga kami lakukan,. Ya! Nikah satu-satunya cara ampuh untuk menghalalkan semua itu. Kami memilki nafsu, namun bukan itu tujuan kami untuk menikah dini. Kami hanya ingin Allah semakin sayang pada kami, Allah ampuni dosa kami, Allah usir setan-setan yang ada pada diri kami, Allah berikan ketengan pada kami (di mana kami saling berjauhan), dan Allah selalu berikan Ridho pada kami. Kami ingin haram menjadi halal, maksiat menjadi ibadah, dan semua apa yang kami lakukan berdua diberi pahala dan menjadi tiket surga kami.
Bismillah.. dg menyebut nama Allah.. kami memilih jalan itu “MENIKAH” . Aku pribadi semat ragu.. Namun, Subahnallah putra yang nantinya menjadi suamiku (InsyaAllah) begitu yakin dengan langkah ini dan berusaha untuk meyakinkanku. Cukup lama aku berpikir dan aku mengambil keputusan “Bismillah put, jika putra siap aku pun siap, jika putra yakin, aku pun yakin. “
Langsung saja kami menyipakan mahar dengan dana yang sangat nipis, membeli mukena seharga 98 ribu, Al-Quran dengan harga 13.500 (kalau ndak salah) kami beli itu semua. Bagiku sudah cukup.
Masih 4 juni 2011, 22.00 kami menuju Yayasan tenpat di mana ustadz R berada. Kami tak sendiri, kami ditemani bapak ibuku yang nantinya menjadi wali untukku (Subhanallah…  orang tuaku menyetujui keputusan kami karena orang tuaku juga berpandangan sam seperti Ustadz R, lebih cepat lebih baik yang penting laki-lakinya bisa dipercaya dan memang siap lahir batin.Maharpun kami keluarkan, Subhanallah putra menambahkan uang tunai 100 ribu pada mahar itu, Bismillah dengan  menyebut nama Allah latihan ijab qabul pun dilaksanakan antar bapak dan putra. 2 saksi siap. Semua siap.
Di ruamg yang berukuran sekitar 7 x 5 meter, khutbah singkat  disampaikan oleh Ustadz R, 2 saksi  mendengarkan dengan khidmat, putra tampakkan keyakinannya, bapak siap dengan kalimat ijabnya, ibu dan aku masih seakan tak percaya.
Bismillahirrahmaanirrahiim.. dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Disaksikan Allah dan para malaikatNya, setelah khutbah nikah selesai bapak pun mengucapkan “saya nikahkan dan jodohkan putri saya Putri Gadis dengan Putra Jaka dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dan uang 100 ribu dibayar tunai!”, “Saya terima nikahnya dan jodohnya Putri Gadis binta Abi dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!”lantang putra.
“Sah…..??” “saaaaah….”ucap para saksi. Alhamdulillah… do’a pun langsung dibacakan oleh Ustadz R dan kami pun mengamini, semoga para Malaikat pun mengamini. Alhamdulillah….
Pertama kalinya aku mencium tangan putra yang kini menjadi suami sahku secara agama di hadapan ustadz, bapak, ibu, dan orang lain. Subhanallah.. ada sebuah kelegaan yang berbeda. Aku mencium tangan putra yang tak lain adalah suamiku. Subhanallah…
Dengan perasaan bahagia kami pulang, ciuman di kening pun melesat dari bibir Putra. Subhanallah.. indaaaah… tenaaang.. damaaai….. Alhamdulillah..

Tetap, ada satu yang mengganjal hingga saat ini, tidak semua orang tahu berita bahagia ini. Hmmmh, tidak apalah yang penting hubungan kami sudah halal, intensitas berhubungan pun semakin banyak, perhatian semakin lebih, dan ketika kami berdua setidaknya sudah tidak setan yang membisiki untuk zina. Jika tujuan kami baik, InsyaAllah, Dia pun berikan jalan kemudahan walau caranya berbeda dengan yang lain. Seperti kami, menikah sirri dulu dengan tujuan jika nanti ada bebrapa orang yang berusaha mengulur nikah (KUA)kami, kami tetap tenang menghadapinya karena kami tidak mau ada pertengkaran sengit dengan keluarga besar (yang masih memikirkan adat dan duniawi) dan kami berusaha menghormati keputusan terbaik dari orang tua kami khususnya mertuaku.
Final story…… aku sudah menjadi istri sah PUTRA. Alhamdulillah….

"Jika sudah saling percaya dan merasa mampu.. mengapa tidak menikah saja??? Banyak yang beranggapan nikah sirri itu merugikan wanita pada umumnya, tapi menurutku, tergantung pada diri kita masing-masing, seperti yang aku jalani saatini, walau dia halal untukku tapi kami berkomitmen untuk tak berhubungan badan dulu hingga kami menandatangani surat nikah KUA, yang insyaALLAH akan dilaksanakan 2012 nanti. Mohon RidhoNya.. Tuh kan... 2012 masih lama, setan itu makin lama populasinya makin banyak. hihi. Pesan untuk para wanita, tetep jangan mudah memutuskan menikah kalau kamu belum kenal betul bagaimana lelaki itu dan bagaimana orang tuanya. Pesanku :"JANGAN JADI WANITA YANG MUDAH PERCAYA LAKI-LAKI, TETEP KUDU KENAL DAN LIHAT KELUARGANYA, BIAR KALIAN BAHAGIA"

pg867

Tidak ada komentar:

Posting Komentar