Bermula dari api yang kunyalakan sendiri.. (kuliah yang belum selesai)
kemudian disusul dengan pemilhan hari..
Lanjut lagi masalah waktu pagi, siang, atau sore
Trus lanjut lagi masalah kedua ortuku di mana bapak tidak berubah dari sifat anak kecilnya sedangkan ibu seorang wanita yang selalu berpikir dan berpikir hingga menjadi beban sendiri
Persiapan souvenir, perias, tempat akad nikah sudah mulai bahan pemikiran dan pembicaraan
Namun, ada aja yang blum klik antara kdua ortuku
Yang satu ingin dihargai dan dituruti yang satu bukan tipe pendengar dan pemberi solusi yang baik, setiap diajak bicara kalau udah sensi yang ada kembali ke aktifitas.
Hmmh kapan selesainya kalau semua nggak bisa diajak ngomong baik-baik...
Saat aku bicara pun yang ada selaan dari ibu dan ancaman pergi saat acaraku pun terlontar.
Spontan aku menangis.. menangis sejadi-jadinya karena aku berpikir kenapa semua akan pergi tinggalin aku..
Dan seakan aku yang membuat mereka susah seperti ini.
Aku... seperti anak yang tidak berguna saja dan hanya merepotkn keduanya..
Aku menangis sejadi-jadinya.. hingga nafas tersengal dan emosi.. sudah tak bisa kukendalikan lagi..
Bapak ibu menghampiriku dan genggam tanganku..
Aku memohon di tengah isakanku... memohon mereka untuk tetap di sini.. Berbicara bersama... musyawarah bersama.. Mengambil jalan tengah dan memikirkan rencana-rencana dan konsepnya..
Alhamdulillah... Akhirnya... sesak isak tangis membawa hikmah.. Tidak masalah walau dadaku terasa sakit karena sesak tadi. :)
Yang penting semua sudah dibicarakan antara aku, bapak dan ibu..
Terimakasih ya bapak ibu...
Maafkan aku yang selalu merepotkanmu...
:)
maaf... ;)
Aku mencintai kalian dan ingin kalian selalu bahagia..
pg867
Tidak ada komentar:
Posting Komentar