Kamis, 18 Agustus 2011

LDM part two


Menjalani LDM (long Distance Marriage) tak semudah mengucapkannya. Penuh tantangan ketika sudah menjalaninya.
Ini kisahku…
Jika mahar tlah diberikan, dua saksi atau lebih menyaksikan, bapak menjadi waliku… itu sudah menikah menurut ajaran islam, agamaku.
Ketika semua tlah diberikan, sah hukumnya sebuah pernikahan. Aku tlah menyandang seorang istri dan dia sebagai seorang suami.
Surat nikah adalah syarat menikah dari Negara agar lebih legal dipandang masyarakat.
Dan 4 Juni 2011 aku menikah dengan PUTRA.
Kurang lebih sudah 2,5 bulan aku tidak bertemu suamiku. Pikiran dan perasaan mencampur adukkan diriku dalam suatu persoalan yaitu RINDU.
Kali ini, PUTRA bak hujan..
PUTRA adalah hujan yang syahdu bagiku…
Memberikan sejuk kala panas menerpa…
Memberikan kelegaan ketika haus yang dirasa…
Berbicara tentang saat ini…. RINDU. Kesetiaan dalam balutan CINTA membuatku RINDU pada suamiku, PUTRA. Seseorang yang sudah secara sah agama telah menikahiku beberapa bulan yang lalu.
Malam ini... aku mengalami puncak kemarau. Di mana aku benar-benar merasa RINDU yang endalam padanya.
Klimat dan syair kerinduan sudah menjadi masakan harianku. Di man akau harus mengolahnya tuk jadi sebuah hidangan yang lezat yaitu KEKUATAN. Kekuatan untuk bertahan dalam masa kemarau.
Saat ini.. bentangan musim kemarau tlah tergelar. Aku harus berjalan hingga hujan itu tiba. Bertman dengan hidangan yang lezat yang disebut KEKUATAN untuk benar-benar buktikan bahwa aku bisa bertahan dengan sabar di masa ini.
Namun… tak mudah! Aku sudah menikah… berbeda rasanya dengan pacaran jarak jauh dimana EGO masih dalam posisi nomer satu.
Aku telah menikah… aku punya tanggung jawab, aku punya harapan, keinginan yang ingin setiap saat kuwujudkan bersama suami..
Namun…. Aku belum bisa lakukan itu semua karena aku yang masih berstatus sebagai mahasiswi semester akhir.
Sebuah dilemma…
Namun.. sudahlah. Ini sudah bagian scenario Sang Pencipta. Sebatas ikhtiar yang bisa aku lakukan.. selanjutnya.. biarkan Allah yang memberikan penilaian.
Ini salah satu caranya tuk berikan pelajaran bahwa LDM sangat tidah mengenakkan.
LDM.. masa terberat bagiku…. Karena Rasulullah sendiri mengajarkan pada Fatimah putrinya :Demi cinta terhadap suaminya seorang isteri akan melakukan khidmat dan bakti kepada suaminya cara hal yang sebesar. besarnya sampai hal yang sekecil-kecilnya seperti menggunting kuku, memotong kumis, dan meminyakkan rambut suami. Rasulullah SAW pernah berkata kepada Siti Fatimah: "Ya Fatimah, apabila seorang wanita meminyakkan rambut suaminya dan janggutnya, memotong kumis dan menggunting kukunya maka Allah akan memberinya minum dari air Surga yang mengalir di sungai sungainya dan diringankan Allah baginya sakaratul maul dan akan didapatinya kubumya menjadi sebuah taman yang indah dan taman taman Surga. "
Jika Rasulullah mengajarkan hal seperti itu pada Fatimah, sementara aku hidup LDM… apakah aku bisa melakukannya.. Aku merasa saat ini ilmu agama semakin banyak penoleransian.. Astaghfirullahal’adziim.. ampuni hambaMu ya Rabb.. khususnya aku yang belum bisa menjadi istri yang belum melakukan kewajiban-kewajiban pada suamiku..
Suamiku… Aku RINDU… tetaplah menjadi HUJANku….


Pg 867

Tidak ada komentar:

Posting Komentar